"Meski mati, namun harus berarti." Kalimat itulah yang menjadi obat disaat saya merasa lelah dan jenuh menghadapi permasalahan kehidupan. Mengapa demikian? Hal ini karena saya berpandangan bahwa manusia harus memiliki arti dalam kehidupan, sekecil apapun. Misalnya saja, dalam lingkup leluarga inti, seorang ayah paling tidak memiliki arti di mata isteri dan anak-anaknya.
Friday, February 25, 2011
Meskipun Mati, namun Harus Berarti
"Meski mati, namun harus berarti." Kalimat itulah yang menjadi obat disaat saya merasa lelah dan jenuh menghadapi permasalahan kehidupan. Mengapa demikian? Hal ini karena saya berpandangan bahwa manusia harus memiliki arti dalam kehidupan, sekecil apapun. Misalnya saja, dalam lingkup leluarga inti, seorang ayah paling tidak memiliki arti di mata isteri dan anak-anaknya.
Sunday, February 20, 2011
WEDANA UDI
Suatu sore, aku mencoba menemani anakku yang bernama Icha yang sedang membaca buku sejarah pahlawan Indonesia. Akan tetapi, saat itu terlihat malas membaca. Seperti biasa jika ia bertingkah laku seperti itu aku mencoba memotivasinnya dengan berbagai janji. Namun saat itu Icha justru menagihku untuk bercerita tentang fabel ataupun kisah kepahlawanan. Namun, sungguh saat itu aku sudah tidak punya andalan cerita karena stock perbendaharaan ceritaku sudah habis kuceritakan kepadanya. Entah mengapa secara tiba-tiba aku ingin menceritakan kisah yang dahulu kuingat semasa sekolah di SMA dahulu. Akhirnya kuceritakanlah tentang kisah kenanganku saat pelajaran sejarah. Harapanku, dengan cerita ini anakku mau termotivasi membaca buku tersebut.
Wednesday, November 10, 2010
Naskah atau Buku Permainan Anak Tradisional Indonesia
Naskah atau buku "Seri Pesona Kekayaan Indonesia, Permainan anak Tradisional Indonesia" ini lahir dari keprihatinan akan budaya Indonesia yang dewasa ini diindikasikan mulai terlupakan bahkan punah. Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa sebagian besar anak Indonesia tidak mengenal permainan tradisional Indonesia. Keberadaannya mulai tergeser dengan permainan masa kini atau modern yang menggunakan teknologi yang tinggi, seperti video game, playstation, dan permainan yang menggunakan teknologi tinggi lainnya. Padahal, disadari atau tidak permainan tradisional Indonesia memiliki banyak keunggulan dibanding dengan permainan modern. Beberapa keunggulannya, yakni dapat menumbuhkan rasa solidaritas, rasa setia kawan, empat terhadap sesama, sportivitas, dan menunjukan keakraban dengan alam sekitar.
Berdasarkan alasan tersebut, kami menganggap bahwa sangat penting mengangkat kembali permainan tradisional dan membudayakannya kembali kepada generasi penerus. Dengan demikian, secara tidak langsung melestarikan budaya tradisional Indonesia.
Naskah atau buku ini disusun dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti serta dilengkapi dengan cara bermain permainan tradisional. Selain itu, buku ini dilengkapi dengan gambar-gambar yang menarik sehingga anak atau pembaca akan tergerak untuk mencoba jenis permainan tradisional yang ada.
Jika Anda tertarik dengan naskah atau buku ini, silakan hubungi kami :
Depot Naskah dan Buku "Sukma Harmoni"
No. telepon 08818262287/ 022-91869545
Thursday, September 30, 2010
Politik Kartel Melanda Perkampungan
Saya juga tidak ingat sudah berapa kepengurusan Pak Lurah di kampungku menjanjikan kepada masyarakat bahwa jalan Cihideung akan diperbaiki. Namun, saya selalu menggerutu jika membawa sepeda motor melewati jalan tersebut seperti hendak ke daerah pesawahan. Padahal, jalan tersebut merupakan jalan yng selalu dilalui oleh mobil-mobil pabrik yang berkapasitas muatannya berat. Saat kekesalan saya memuncak, timbul inisiatif saya untuk mengabadikan jalan itu dengan kamera Nikkon L22.
Budaya Indonesia yang Dicontek Situs Jejaring Sosial

Sewaktu kecil, saya pernah tinggal di perkampungan di rumahya nenek. Saat itu, rasa kekeluargaan, empati, saling tolong menolong, dan persudaraan sangat erat. Dahulu, orang di desa saling mengenal satu sama lain. Contohnya, jika ada perkawinan atau ada yang tutup usia, semua warga turut hadir membantu apa yang bisa mereka bantu tanpa pamrih. Bahkan, jika ada warga baru, mereka selalu menyambut dengan ramah dan kekeluargaan. Jika dalam budaya Sunda, hal tersebut dicerminkan dalam pilosofi “Saling Asah, Saling Asuh, Saling Asih.
Wednesday, September 22, 2010
Dina, Sabarlah Menungguku!
Udi Sukrama
Namaku Arman Landu, namun orang-orang sering memanggilku dengan nama agak Keeropa-eropaan “Arland Pernandes”(Pernandes=peranakan desa). Aku pernah membangun keluarga. Pada pernikahanku yang pertama, aku menikahi seorang gadis cantik bernama Ratna. Ratna merupakan gadis yang kukenal di kampus empat tahun yang lalu. Pada tahun 1995, kami sama-sama lulus kuliah, dan tanpa menunda lagi kami langsung memutuskan untuk menikah. Keputusan itu dengan sadar kami ambil karena pada saat kuliah, kami sudah saling mengenal bahkan sama-sama bekerja. Aku bekerja sebagai manajer di salah satu bank swasta di Jakarta, sedangkan Ratna bekerja sebagai staf akunting di sebuah perusahaan jasa pengiriman barang di kota yang sama pula. Jadi, boleh dikatakan kami tidak ada masalah untuk mencukupi biaya hidup sehari-hari.
Namaku Arman Landu, namun orang-orang sering memanggilku dengan nama agak Keeropa-eropaan “Arland Pernandes”(Pernandes=peranakan desa). Aku pernah membangun keluarga. Pada pernikahanku yang pertama, aku menikahi seorang gadis cantik bernama Ratna. Ratna merupakan gadis yang kukenal di kampus empat tahun yang lalu. Pada tahun 1995, kami sama-sama lulus kuliah, dan tanpa menunda lagi kami langsung memutuskan untuk menikah. Keputusan itu dengan sadar kami ambil karena pada saat kuliah, kami sudah saling mengenal bahkan sama-sama bekerja. Aku bekerja sebagai manajer di salah satu bank swasta di Jakarta, sedangkan Ratna bekerja sebagai staf akunting di sebuah perusahaan jasa pengiriman barang di kota yang sama pula. Jadi, boleh dikatakan kami tidak ada masalah untuk mencukupi biaya hidup sehari-hari.
Mengenang Kisah Manager “Biting”
Oleh: Udi Sukrama
Semalam, ketika Badri sedang asyik menonton OVJ (Opera van Java), tiba-tiba perutnya berbunyi “kruuukkk….Kruuukkk”, laksana jam bekker mengumandangkan jam makan. Untungnya, jam bekker perut ini seperti gayung bersambut dengan suara penjual sate yang lewat di depan rumah, ”Tee…Satee..Teee…Satee”. Lansung saja Badri menghampiri tukang sate dan memesan seporsi sate+lontongnya.
Tidak lama kermudian tukang sate pun datang sambil membawa seporti sate + lontong dengan bungkusan berupa daun yang disematkan sepotong lidi. Badri pun membayar seporsi sate itu dan berucap, “terima kasih, Mas”.
Tidak lama kermudian tukang sate pun datang sambil membawa seporti sate + lontong dengan bungkusan berupa daun yang disematkan sepotong lidi. Badri pun membayar seporsi sate itu dan berucap, “terima kasih, Mas”.
Subscribe to:
Posts (Atom)
