Thursday, March 10, 2011

Semoga Tuhan Memberikan Kekuatan Kepada Kita

Oleh: Udi Sukrama

Saat merasa penat dengan berbagai masalah yang selalu berputar di kepala (terutama masalah ekonomi), saya mencoba menghibur diri dengan mendengarkan musik. di ruangan. Tiba-tiba, terdengar ketukan beberapa kali dari luar pintu kamar sehingga mengusik keasyikan saya. Ternyata, ibu yang selalu mencucikan pakaian saya. Ia datang dengan maksud meminjam uang untuk mengobati anaknya ke dokter. Saya merasa iba dan memberikan sejumlah uang kepadanya, namun tetap saja di dalam hati saya sedikit menggerutu karena persediaan uang mulai menipis.

Silaturahmi Tidak Mengenal Pepatah: “Karena Nila setitik, Rusak Susu Sebelanga”


oleh: Udi Sukrama

Kita sering mendengar pepatah yang menyatakan “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”, artinya hanya karena kesalahan kecil yang nampak tiada artinya, tetapi dapat menjadi persoalan besar dan membuat kacau atau berantakan.

Thursday, March 3, 2011

Percakapan Dua Bocah di Pantai

Oleh: Udi Sukrama
Sore itu, suasana Pantai Kuta-Bali sangat menyenangkan dan ombaknya pun tidak terlalu besar. Banyak para wisatawan yang menikmati suasana itu. Ada yang hanya duduk-duduk menunggu matahari tenggelam, ada yang bermain air, snorkling, dan bermain pasir. Nah, khusus bermain pasir ini sangat disukai oleh para bocah berumur 2-6 tahun. Di tengah para bocah yang sedang bermain pasir ini terlihat dua orang anak yang asyik bermain pasir sambil berbincang-bincang. Ternyata, kedua bocah ini merupakan satu rombongan wisatawan dari Australia. Bahkan rumah mereka saling berdekatan, jadi wajar jika mereka begitu akrab. Mereka bernama Jesica dan Jhony. Mereka terlihat berbincang-bincang sangat serius.
"Jhon, kira-kira di laut ada buayanya ga ya?" tanya Jesica kepada Jhon.
"Kata ibuku sih buaya itu tidak ada di laut, tapi di muara, dan sungai," kata Jhon sambil membuat bangunan rumah dari pasir.
"Ooo..Begitu. Tapi kamu tidak tahu khan kalau di darat juga ada buaya?" kata Jesica kepada Jhon.
"Tahu dari mana kamu kalau di darat itu ada buaya, Jes?" Jhon merasa bingung.
"Aku sendiri pernah mendengar suatu malam, saat ibuku baru pulang kerja ia berteriak dengan keras menyebutkan nama 'Buaya Darat' di hadapan ayahku," kata Jesica.
"Oh, iya. Saat itu juga aku melihat ibumu tergesa-gesa keluar dari jendela kamar ayah dan ibuku," tambah Jesica.
"Oooo...Begitu pasti ibuku juga tahu. Ibuku khan seorang dr. ahli hewan.Yuk, kita tanyakan kepada Ibuku, Jes!" ajak Jhoni kepada Jesica.
Kedua bocah ini kemudian berjalan menuju tempat di mana kedua orang tua mereka bersantai di pinggir pantai. Kemudian, Jhon pun bertanya kepada ibunya.
"Apa benar di darat ada buaya?" kata Jhon kepada ibunya.
Ibunya Jhon pun tersenyum, lalu ia berkata," Kata siapa Jhon di darat ada buaya?"
"Kata Jesica Bu. Katanya, ia mendengar saat itu, Ibunya Jesica berteriak menyebutkan buaya darat di depan ayahnya. Katanya juga saat itu Ibu pasti mendengar karena ibu baru keluar lewat jendela," kata Jhon.
Seketika ibunya Jhon, terdiam dan wajahnya terlihat pucat.
"Ada-tidak buaya di darat, Bu?" tanya Jhon kepada ibunya degan penuh penasaran.
Ibunya pun tidak menjawabnya. Akan tetapi, ternyata ibunya Jesica yang menjawabnya dengan lantang, " Ada, Jhon."
Kemudian, Jesica pun menoleh ke arah Jhon," Tuh khan apa aku bilang, ada khan."
Jhon pun menganguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Kemudian, ia pun melontarkan pertanyaan kepada ibunya Jesica.
"Kira-kira, banyak mana antara buaya rawa, buaya sungai atau buaya darat, Tante?" tanya Jhon kepada ibunya Jesica.
"Banyak Buaya Darat, Jhon," kata Ibunya Jesica sambil menatap tajam kepada ayah Jesica dan ibunya Jhon.
"Oooo begitu....Hiiiyyyy ngeri sekali," kata kedua bocah itu. Kemudian, meraka kembali menuju bermain pasir dengan asyiknya. Mereka pun tidak peduli ada telah terjadi keributan setelah meninggalkan tempat di mana mereka bertanya tadi.

Bandung, saat ngantuk di siang hari.

Wednesday, March 2, 2011

Jangan Pernah Putus Asa Mencintai Republik

"Jangan pernah putus asa mencintai republik…" Paling tidak kalimat ungkapan dari Ibu Sri Mulyani itulah yang masih terngiang-ngiang di telinga saya untuk terus menuangkan apa yang saya mampu. Memang, sebenarnya saya rasakan kehidupan kini sangatlah berat. Pasalnya, di tengah menjulang tingginya kebutuhan pokok manusia Indonesia, masyarakat dipusingkan pula oleh berbagai masalah politik dalam negeri, yang tentunya berimbas kepada kehidupan masyarakat. Hal ini dapat kita lihat sering terjadinya perseteruan antara partai politik di kursi Dewan Terhormat, yang ide awalnya mendaulat atau didaulat sebagai perwakilan rakyat. Anehnya, mereka yang menjadi perwakilan itu saling sibuk memikirkan kelanggengan dirinya dan partainya, bukan memikirkan tentang kehidupan masyarakat. Mereka saling ribut tentang pemberantasan korupsi, mafia pajak, PSSI, dan koalisi, lalu kapan memikirkan rakyatnya yang sedang kelaparan?
Akhir-akhir ini saya mulai pesimis akan keberadaan para pengurus bangsa yang konon sebagai pengayom, pelindung, dan mewakili rakyatnya saat terjadi permasalahan di tengah masyarakat yang hampir kurang gizi. Akhir-akhir ini juga saya mulai pesimis akan kelangsungan kehidupan saya di bumi Indonesia ini. Terkadang saya suka tertawa sendiri jika ada siaran ataupun acara di televisi yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya akan kekayaan alamnya, dalam kenyataannya masyarakat banyak yang miskin dan tidak dapat menikmati kekayaan negara ini. Atau mungkin saja perkataan negara Indonesia adalah sebagai negara yang kaya akan sumberdaya alam?! Tetapi, makna sebenarnya adalah Negara Indonesia itu kaya akan warganya yang miskin, kaya korupsi, kolusi, dan maraknya penjahat berdasi yang dapat memutar balik kebenaran....."Achhh," Lagi-lagi, saya teringat ucapan, "Jangan pernah putus asa mencintai republik ini".

Friday, February 25, 2011

Meskipun Mati, namun Harus Berarti

"Meski mati, namun harus berarti." Kalimat itulah yang menjadi obat disaat saya merasa lelah dan jenuh menghadapi permasalahan kehidupan. Mengapa demikian? Hal ini karena saya berpandangan bahwa manusia harus memiliki arti dalam kehidupan, sekecil apapun. Misalnya saja, dalam lingkup leluarga inti, seorang ayah paling tidak memiliki arti di mata isteri dan anak-anaknya.

Sunday, February 20, 2011

WEDANA UDI

Suatu sore, aku mencoba menemani anakku yang bernama Icha yang sedang membaca buku sejarah pahlawan Indonesia. Akan tetapi, saat itu terlihat malas membaca. Seperti biasa jika ia bertingkah laku seperti itu aku mencoba memotivasinnya dengan berbagai janji. Namun saat itu Icha justru menagihku untuk bercerita tentang fabel ataupun kisah kepahlawanan. Namun, sungguh saat itu aku sudah tidak punya andalan cerita karena stock perbendaharaan ceritaku sudah habis kuceritakan kepadanya. Entah mengapa secara tiba-tiba aku ingin menceritakan kisah yang dahulu kuingat semasa sekolah di SMA dahulu. Akhirnya kuceritakanlah tentang kisah kenanganku saat pelajaran sejarah. Harapanku, dengan cerita ini anakku mau termotivasi membaca buku tersebut.

Wednesday, November 10, 2010

Naskah atau Buku Permainan Anak Tradisional Indonesia

Naskah atau buku "Seri Pesona Kekayaan Indonesia, Permainan anak Tradisional Indonesia" ini lahir dari keprihatinan akan budaya Indonesia yang dewasa ini diindikasikan mulai terlupakan bahkan punah. Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa sebagian besar anak Indonesia tidak mengenal permainan tradisional Indonesia. Keberadaannya mulai tergeser dengan permainan masa kini atau modern yang menggunakan teknologi yang tinggi, seperti video game, playstation, dan permainan yang menggunakan teknologi tinggi lainnya. Padahal, disadari atau tidak permainan tradisional Indonesia memiliki banyak keunggulan dibanding dengan permainan modern. Beberapa keunggulannya, yakni dapat menumbuhkan rasa solidaritas, rasa setia kawan, empat terhadap sesama, sportivitas, dan menunjukan keakraban dengan alam sekitar.
Berdasarkan alasan tersebut, kami menganggap bahwa sangat penting mengangkat kembali permainan tradisional dan membudayakannya kembali kepada generasi penerus. Dengan demikian, secara tidak langsung melestarikan budaya tradisional Indonesia.
Naskah atau buku ini disusun dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti serta dilengkapi dengan cara bermain permainan tradisional. Selain itu, buku ini dilengkapi dengan gambar-gambar yang menarik sehingga anak atau pembaca akan tergerak untuk mencoba jenis permainan tradisional yang ada.
Jika Anda tertarik dengan naskah atau buku ini, silakan hubungi kami :
Depot Naskah dan Buku "Sukma Harmoni"
No. telepon 08818262287/ 022-91869545